Apa dampak pandemi terhadap psikologi remaja?

Wabah COVID-19 sudah lebih enam (6) bulan ini melanda tanah air kita. Wabah ini tidak hanya berpengaruh pada kesehatan tetap juga pada psikologis anak remaja. Wabah/Pandemi COVID-19 telah berdampak besar pada semua aspek kehidupan, terutamanya pada aktivitas harian kelompok anak dan remaja. Hal ini terjadi karena penerapan physical distancing dan liburnya sekolah membuat mereka tidak bisa beraktivitas secara normal. Aktivitas mereka yang banyak berkumpul dengan teman-teman sekolah kini dilarang oleh pemerintah sehingga terpaksa harus berada dirumah dengan waktu yang tidak dapat ditentukan.

Demikian dengan anak remaja, keadaan ini adalah kesempatan berlibur karena sekolah ditutup dan tidak ada pelajaran. Dengan berjalannya waktu ternyata justru mempengaruhi psikologis/mental anak remaja itu sendiri. Kebanyakan dari mereka terlihat murung, sedih, kecewa saat menjalani karantina di rumah selama pandemi/wabah COVID-19. Hal ini dikarenakan sebagian dari remaja ini ingin mengulang peristiwa-peristiwa yang mereka tunggu, misalnya menonton pertandingan olahraga antar kelas, pentas musik atau mungkin bahkan sekedar bertemu dengan teman untuk mengobrol.

Hampir sebagian besar dari mereka bertanya-tanya kapan pandemi/wabah ini berakhir. Perasaan mereka diliputi dengan sedih dan cemas, walaupun ada beberapa dari mereka yang mengisi kekosongan dan kecemasannya dengan bermain ponsel atau media sosial. Tetapi hal tersebut juga tidak cukup dalam mengobati rasa sedih, jenuh, gelisah dan cemas.

Rasa Sedih dan Kecewa Efek Pandemi Covid-19

Setiap remaja mengalami rasa sedih dan kecewa selama masa pandemi/wabah covid-19 tentulah hal ini sangat wajar dan normal. Tetapi kenyataannya bahwa media sosial dan permainan di ponsel tidak dapat menggantikan interaksi sosial di sekolah mulai dari bersenda gurau di kelas, menertawakan sesuatu saat pelajaran, hingga mendengar segala percakapan yang terjadi di sekitarnya. Selain itu dampak pandemi/wabah ini terhadap psikologi  remaja yang termasuk golongan keluarga kurang mampu ternyata cukup besar. Mereka sangat kekurangan sumber daya dalam melanjutkan sekolah dari rumah (daring) seperti akses internet. Remaja yang termasuk dalam keluarga ini harus memikirkan nasib keluarganya karena pandemi/wabah ini membuat mereka kehilangan sumber penghasilan/pendapatan. Oleh karena itu, orangtua dan masyarakat sekitar perlu memberi semangat dan perhatian khusus pada masalah ini.

Baca Juga :  Tes Psikologi Kejiwaan

Gejala psikologis remaja terdampak COVID-19

Efek dari pandemi/wabah ini memang cukup berpengaruh pada psikologis remaja sampai membuat mereka stres. Ada sebagian dari mereka yang mungkin ‘berulah’ karena ingin melampiaskan merasa bosan dan ingin mencari perhatian dari masyarakat. Beberapa gejala psikologis remaja selama masa COVID-19 yang perlu kita waspadai, yaitu:

  • keluhan fisik misalnya sakit perut, pusing, atau gejala fisik lainnya
  • mengisolasi diri dari teman sebaya, orangtua bahkan sampai mengubah komunitas temannya
  • semangat belajar turun yang mengakibatkan prestasi akademiknya merosot tajam
  • sering menyalahkan diri sendiri

Gejala psikologis remaja di atas mungkin pernah kita lihat disekitar kita. Tetapi kita harus lebih perhatian terhadap remaja tersebut yang mengalami perubahan psikologis dalam waktu singkat dan sekaligus. Dengan perhatian tersebut mampu menghindari psikologis remaja sehingga mereka bisa menjalani masa karantina di rumah dengan baik dan sehat. Perhatian dari orang tua terhadap anak remajanya dapat menyebabkan anak lebih cepat beradaptasi dan kuat. Dilain pihak, anak yang mengalami kejadian traumatis tidak menutup kemungkinan mengalami masalah dalam waktu yang singkat misal sedih dan rasa cemas. Namun ada sebagian dari mereka tidak mengalami efek dari dampak psikologis dalam jangka lama.

Tips membantu agar psikologis remaja tetap baik selama pandemi

Upaya orangtua dengan perhatian dan semangat terhadap anak remaja dapat meminimalisir selama pandemi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan orang tua dalam mendukung psikologis anak yang berusia remaja. Ada beberapa tips yang mungkin membantu orang tua dalam menjaga psikologis  remaja :

  • tetap melakukan rutinitas harian atau membuat jadwal aktivitas baru
  • berdiskusi soal COVID-19 dengan jujur dan bahasa yang dimengerti oleh anak remaja
  • selalu mendukung remaja untuk belajar di rumah dan meluangkan waktu untuk bermain
  • membantu anak mencari pemecahan yang positif dalam mengungkapkan perasaan, seperti menggambar, menulis
  • anak remaja tetap bersosialisasi dengan teman dan anggota keluarga lewat daring
  • memastikan anak remaja tidak banyak menghabiskan waktu senggang dengan gadget.
  • Mengarahkan anak remaja dengan hobi yang kreatif, seperti bernyanyi, berenang, memasak, atau menulis
Baca Juga :  Apa itu Psikoterapi?

Efek/dampak pandemi terhadap psikologis remaja memang cukup besar. Sehingga peran orangtua sangat penting agar tetap perhatian pada anak. Walaupun terlihat baik-baik saja, tidak ada salahnya orang tua tetap rutin bertanya tentang kabar anak yang sudah berusia remaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Chatting with Admin